Kamis, 28 Oktober 2010

SEJARAH DAN BUDAYA MASYARAKAT BUNGKU

SEJARAH DAN BUDAYA
MASYARAKAT BUNGKU
Oleh
SYAKIR MAHID
A. Prolog.
Upaya untuk mengungkap sejarah dan budaya suatu etnis tanpa sumber yang lengkap mustahil dapat dilakukan. Demikian pula nasib sejarah dan budaya etnis Bungku; hingga kini belum dapat diungkap tuntas dan bahkan belum ditulis secara memadai (belum ada buku sejarah Bungku) karena sumber-sumbernya masih berserakan dan tersebar di beberapa tempat antara lain di Arsip Nasional, Koleksi langka Perpustakaan Nasional dan sebagian ada di Jogyakarta, Bandung, Makasar, dan bahkan di Leiden Belanda.
Pengetahuan mengenai sejarah dan budaya Bungku hingga kini hanya berdasarkan oral tradition (tradisi lisan). Pengetahuan berdasarkan oral tradition tersebut hingga kini masih tersebar dan berserahkan pada masing-masing individu yang oleh mereka yakin bahwa ceritera sejarah yang mereka pernah dengar dari orang-orang tua mereka mengenai Sejarah dan budaya Bungku benar adanya. Tetapi pengetahuan seperti tersebut dari sudut pandang ilmiah dianggap masih banyak kelemahan dan diragukan kebenarannya karena belum dibedah dan diuji melalui penelitian ilmiah yang mengunakan metode sejarah. Sebuah bukti yang dapat dijadiakan acuan terhadap argument tersebut adalah fakta yang menunjukkan bahwa hingga kini belum ditemukan sebuah buku hasil penelitian yang isinya membahas secara utuh Sejarah dan budaya Bungku.
Penelitian yang ideal mengenai sejarah dan kebudayaan suatu daerah harus dilakukan oleh para ilmuan sosial atau sejarawan untuk mengungkap sejarah dan budaya suatu masyarakat, umumnya menggunakan pendekatan komprehensif yang oleh Sartono Kartodirdjo disebut “pendekatan multidimensional”. Pendekatan ini menggunakan dua analisis. Pertama analisis bersifat singkronik (meluas dalam ruang) atau sering disebut spasial. Kedua analisis diakronik atau temporal (memanjang mengikuti perjalanan waktu) yang dalam istilah populernya disebut kronologis.
Sejalan dengan gagasan penelitian sejarah dan kebudayaan, Taufik Abdullah menyatakan bahwa sejarah dapat diamati melalui tiga sudut pandang, pertama Sejarah sebagai fakta; artinya suatu kejadian yang benar-benar telah terjadi, diceriterakan atau tidak diceriterakan begitulah adanya, kedua Sejarah sebagai ceritera; adalah suatu ceritera sejarah yang masih perlu dicermati karena belum tentu kejadiannya sesuai dengan yang diceriterakan, ketiga Sejarah sebagai ilmu; adalah suatu ceritera kejadian yang disusun dengan menggunakan kaidah ilmu sejarah, dengan tahapan-tahapannya, mulai dari Heuristik, Kritik, Interpretasi dan berakhir pada Historiografi.
Makalah ini mencoba mengkritisi sekaligus menjelaskan sejarah bungku dalam bentuk periodesasi. Penekanan pada periodisasi akan dilihat pada penggunaan gelar raja-raja yang berkuasa di eks landschap Tambuku/Tombuku, yang kemudian diubah menjadi Kerajaan Bungku, selanjutnya menjadi kewedanaan Bungku dan terakhir menjadi Wilayah Pembantu Bupati Kepala Daerah (BKDH Poso di Bungku), sebagai suatu entitas yang dapat menjelaskan diakronik yang dimaksudkan Sartono Kartodirdjo.
B. Pembahasan
Keberadaan masyarakat Bungku sejak tahun 1622 sudah dikenal di Eropa terutama oleh orang Portugis dengan kata “Tobuguo”. Nama ini diperkenalkan oleh Hessel Gerrits dalam buku “La Kartographie Neederlandaise de la Celebes” sementara dalam literatur Belanda terdapat dua nama secara bergantian digunakan untuk menyebut Bungku yaitu “Tambuku” dan “Tombuku” kemudian hingga kini belum diketahui sejak kapan berubah menjadi “Bungku” yang kita kenal sebagai salah satu bagian dari wilayah Kabupaten Morowali Sekarang.
Kata “Bungku” sekarang ini memiliki beberapa makna (pengertian) antara lain: pertama menunjuk kepada satu etnis dari dua belas etnis yang mendiami Provinsi Sulawesi Tengah. kedua menunjuk kepada suatu wilayah eks landschap Tambuku/Tombuku (Bungku) yang merupakan satu kesatuan geografis terletak di Kabupaten Morowali dan membentang dari Kecamatan Menui Kepulauan sampai dengan Kecamatan Mamo Salato (yang benar adalah Momo Selato) pecahan dari Kecamatan Bungku Utara, Ketiga sebuah eks landschap (kerajaan) yang pernah berdiri sejak abad ? sampai tahun 1950.
Bungku sebagai sebuah etnis, adalah satu kesatuan masyarakat yang memiliki kebudayaan tersendiri berbeda dengan budaya etnis lain. Sementara sebagai suatu kesatuan wilayah tentunya tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu kecamatan dengan kecamatan lainya; karena pembagian menjadi beberapa Kecamatan hanyalah merupakan upaya mempermudah pelayanan administrasi pemerintahan, namun hakekatnya merupakan satu kesatuan wilayah yang utuh.
Sebagai sebuah eks landschap (kerajaan) sampai kini masih merupakan sebuah teka-teki. Ini suatu kekuranga sebagai akibat dari pengumpulan sumber-sumber Sejarah Kerajaan Bungku selama ini masih sebatas oral history . Untuk itu tentunya merupakan suatu kewajiban generasi muda Bungku melakukan penelitian ilmiah agar teka-teki sejarah dan budaya kerajaan Bungku segera terjawab.
Seperti telah dijelaskan pada bagian akhir prolog bahwa pembahasan dalam makalah ini mencoba mengkritisi sekaligus menjelaskan sejarah Bungku dalam bentuk periodesasi. Penekanan pada periodisasi akan dilihat pada penggunaan gelar raja-raja yang berkuasa di eks landschap Tambuku/Tombuku, sebagai suatu entitas yang dapat menjelaskan diakronik yang dimaksudkan Sartono Kartodirdjo. Berdasarkan penggunaan gelar nama-nama raja Bungku ada tiga periode penting yakni: pertama periode mitologis (alam sebagai subjek dan manusia sebagai objek), kedua periode ideologis (manusia sebagai subjek dan alam sebagai objek), dan ketiga periode ilmu pengetahuan (manusia dan alam menjadi objek sekaligus menjadi subjek).
Kerajaan Bungku yang ditaklukkan oleh pasukan Ternate (belum diketahui kapan waktunya) yang oleh masyarakat Bungku lebih popular dengan nama Tobelo; pada tahun 1682 diambil alih Gubernur Padbrugge atas nama Kompeni Hindia Belanda, dengan tujuan menghukum Sultan Ternate atas pemberontakannya melawan kekuasaan Kompeni. Sebelum diambil alih oleh pemerintah Belanda, Bungku telah memiliki pemerintahan sendiri. Kerajaan ini meliputi satu teritorial. Vita Tobungku (tanah Bungku) dan didiami oleh satu kesatuan sosial masyarakat yang mempunyai adat istiadat, bahasa dan agama serta corak kehidupan dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan lain di luar wilayahnya.
Menurut ceritera yang berkembang dan dikembangkan oleh masyarakat Bungku bahwa, kerajaan Bungku dahulu diperintah oleh raja¬-raja yang berasal dari keturunan leluhur yang sama mulai dari raja pertama sampai raja ke 13 sebagai raja terakhir hingga Indonesia merdeka. Raja pertama Kerajaan Bungku adalah Marhum Sangiang Kinambuka. Ayahnya bernama Sangia Oheo dan ibunya bernama Fengguluri. Adapun istri dari Sangia Kinambuka adalah Wendoria gelar Apu Boki, keturunan Mokole Lere di Routa. Sangia Kinambuka mempunyai dua orang saudara, bernama Fengkoila bergelar Sangia I Nato memerintah di Kendari dan Feluo Sangia Felungku memerintah di Kerajaan Luwu Palopo. Adapun raja-raja (Peapua) yang pernah memerintah di Bungku adalah:

01. Pea Pua Sangiang Kinambuka
02. Pea Pua Papa
03. Pea Pua Arsyad
04. Pea Pua Kolono Surabi

05. Pea Pua Kasili Lamboja
06. Pea Pua Kasili Syadik
07. Pea Pua Kasili Baba

08. Kasili Maloku Tondu Le-Obi 1674
09. Kasili Ismail Lau Peke tahun 1886-1907

10. Abdul Wahab tahun 1908 –1922
11. Achmad Hadie tahun 1925 –1930
12. Abdul Razak tahun 1931 –1937
13. Abddurabbie tahun 1938 –1950

Sebelum dijelaskan periodisasi sejarah kerajaan Bungku berdasarkan penggunaan gelar raja-raja Bungku seperti tersebut di atas, penulis perlu terlebih dahulu menjelaskan periodisasi sejarah secara umum yang sering ditemukan dalam beberapa literature terdapat beberapa cara yang digunakan untuk melakukan periodisasi (pembabakan sejarah). Pertama: periodisasi tiga zaman menggunakan istilah: 1. Zaman Pra Aksara (pra sejarah), 2. Zaman Nirleka (Zaman peralihan dari zaman pra aksara ke zaman sejarah) dan 3. Zaman Sejarah. Kedua periodisasi yang juga menggunakan tiga zaman dengan istilah: 1. Zaman Batu, 2. Zaman Perunggu dan 3. Zaman Besi. Ketiga Kedua periodisasi enam zaman menggunakan istilah 1. Zaman Purba, 2. Zaman Kuno, 3. Zaman Hindu Budha, 4. Zaman Islam, 5. Zaman Penjajahan dan 6. Zaman Kemerdekaan.

Terlepas dari periodisasi sejarah seperti tersebut di atas dari susunan nama raja-raja Bungku tersebut jika dikaji secara mendalam maka dapat ditelusuri periodisasi sejarah kerajaan bungku yang sebenarnya.
Kebudayaan
Menurut ilmu Antropologi bahwa Kebudayaan itu rumit dan kompleks. Istilah kebudayaan walaupun sudah menjadi sebuah istilah yang amat populer, namun kenyataanya masih banyak ditemukan perbedaan-perbedaan pengertian dari setiap orang. Ada yang mengartikan “kebudayaan” sangat luas sehingga seluruh aktifitas manusia termasuk gerakan instingnya digolongkan ke dalam kebudayaan, ada pula yang mengartikan kebudayaan dengan pengertian yang amat sempit; sehingga mengartikan kebudayaan hanyalah yang menyangkut kesenian. Pendapat kedua yang mengartikan kebudayaan hanyalah kesenian agaknya merupakan suatu anggapan yang keliru, karena kesenian yang terdiri dari seni rupa, seni musik, seni tari, seni sastra, seni teater dan seni lainnya hanyalah salah satu unsur dari kebudayaan. Jika demikian timbul pertanyaan “apakah kebudayaan itu”?
Pengertian kebudayaan dapat dipahami melaui dua segi yakni, segi Etimologis dan Terminologis. Secara etimologis perkataan budaya berasal dari bahasa Sansekerta “budhayah” yang merupakan bentuk jamak dari “Budhi”; yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan adalah segala sesuatu yang bersangkut paut dengan akal. P.J Zoetmoelder dalam bukunya “Cultur Oost en West“ mengatakan bahwa kata budayaan merupakan perkembangan dari kata majemuk “budidaya” yang berarti “daya daripada budi, daya daripada akal”. Kata kebudayaan sama dengan kata “Culture” dalam bahasa Inggris yang merupakan serapan dari bahasa latin “Colere” yang berarti mengolah, atau mengerjakan . Jadi kebudayaan adalah segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Secara terminologis (definisi) telah banyak Sarjana Ilmu Sosial yang mencoba menerangkan, atau setidak-tidaknya telah menyusun definisi. Ada dua sarjana antropologi A. L. Kroeber dan C. Kluckhohn, yang pernah mengumpulkan lebih kurang 179 macam definisi tentang arti kebudayaan. Mereka berdua mencoba menganalisis ke-179 definisi itu, mencari intinya dan mengklasifikasinya dalam berbagai golongan. Hasilnya dibukukan dengan judul Critical Review of Conceps and Definition (1952) .
Kedua ahli tersebut setelah melakukan analisis disimpulkan bahwa ada tiga wujud kebudayaan yaitu (1) Ideas, (2), Activities, dan (3) Artefacts. Pendapat tersebut didukung oleh Koentjaraningrat yang menyatakan bahwa kebudayaan itu ada tiga wujudnya: pertama, Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, peraturan dan sebagainya. Kedua, Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. ketiga, Wujud kebudayaan sebagi benda-benda hasil karya manusia.
Kesimpulan lain yang dihasilkan oleh kedua tokoh antropologi tersebut bahwa para ilmuan sosial secara garis besar mengakui adanya tujuh unsur kebudayaan yang berlaku universal sebagai isi pokok dari kebudayaan manapun di permukaan bumi ini. Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah: Sistem religi dan upacara keagamaan, Sistem organisasi kemasyarakatan, Sistem pengetahuan, Bahasa, Kesenian, Sintem mata pencaharian, serta Sistem tegnologi dan peralatan

Tujuh unsur budaya universal tersebut jika diamati dalam keseharian masyarakat Bungku akan nampak bahwa Pertama, pengamalan keagamaan sangat kental dipengaruhi oleh budaya Islam baik dari segi fisik (model bangunan Masjid) maupun mental (psykhis) amat kental pengaruh ajaran sufi. Selain itu seperti halnya masyarakat lain di seluruh dunia bahwa kepercayaan Animisme dan Dinamisme, cukup besar pengaruhnya sebelum masuk pengaruh Agama Islam, sehingga masyarakat Bungku hingga kini masih dipengaruhinya walaupun intensitasnya sudah menipis namun masih tetap dipertahankan. Hal ini dapat diamati melalui fenomena dukun yang dalam bahasa Bungku populer dengan istilah Sando.
Kedua, sistem organisasi kemasyarakatan masyarakat Bungku dapat ditelusuri melalui pengorganisasian masyarakatnya yaitu dikenal stukrur pelapisan masyarakat Raja (pau), Bangsawan (mokole), Rakyat biasa dan budak (ata). Struktur organisasi kemasyarakatan ini, juga dapat di telusuri melalui sistem kekerabatan yang dalam bahasa Bungku disebut tepoalu petutua’ia. Selain itu, juga dapat ditelusuri melalui sistem gotongroyong yang berlaku pada masyarakat seperti, metatulungi, mefalo-falo dan mo’ala oleo.
Ketiga, Sistem pengetahuan masyarakat Bungku dapat ditelusuri melalui pengetahuan tentang alam sekitar, flora dan fauna, zat-zat, bahan mentah, benda-benda alam, ruang dan waktu, tubuh manusia, dan sifat-sifat manusia .
Keempat, Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bungku yaitu wujudnya terdiri dari bahasa yang amat halus, bahasa halus, bahasa sehari-hari dan bahasa kasar.
Kelima, wujud kesenian seperti: seni beladiri silat (kontau dan manca), seni bangunan seperti masjid, rumah, dan kuburan. Seni tetabuhan (tatabua) ndengu-ndengu, ganda dan rabana).
Keenam, mata pencaharian yang ditekuni oleh masyarakat Bungku umumnya peteni.
Ketuju, tegnologi dan peralatan masyarakat Bungku melalui Alat-alat kerja, Wadah, Makanan, Pakaian, Perumahan, dan Alat transport.
Selain yang dijelaskan di atas penulis merasa perlu untuk menjelaskan konsep nilai bauadaya yang sampai hari ini masih dijunjung tinggi oleh generasi tua masyarakat Bungku seperti antara lain pertama, Samaturu (rukun) yang wujudnya merasa satu dalam ikatan kekeluargaan. Praktek samaturu dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat diwujudkan dalam bentuk metapoko-poko fali atau metatulungi. Pada masa pemerintahan raja muncul sebuah pesan filsafat yang maknanya cukup dalam namun kini tidak ditemukan lagi pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu “Baratantonga tompano pandeanto, tila mengkena pande motauanto” artinya seimbangkan ujung ketrampilan kita, bahagi sama ujung ketrampilan dan pengetahuan kita. Kedua, Sopan santun dalam bahasa Bungku dikenal dengan istilah Kona’adati, konalelu, dan kona atora artinya bertingkah laku sesuai dengan tuntunan adat istiadat. Ketiga Kemandirian dalam bahasa Bungku identik dengan tumorampanta, tumadempanta atau lumakompanta artinya hidup sendiri, berdiri sendiri atau berjalan sendiri. Keempat, Taat terhadap orang tua merupakan kewajiban seorang anak. Kelima, Disiplin dan cermat yang disebut katutu atau matutu, Keenam, Tanggung jawab, Ketujuh, Kejujuran dalam bahasa Bungku disebut kamoleoa atau moleo. Kedelapan, Rasa pengabdian yang dikenal dengan safa montulungi yang juga diidentikkan dengan pongkokolaro.
C. Epilog

Kebudayaan masyarakat Bungku yang berkembang sejak awal adanya manusia mendiami wilayah Bungku telah mengalami pasang surut sesuai dengan perjalanan waktu dan mengikuti pasang surutnya kondisi politik yang terjadi baik di wilayah Bungku maupun di wilayah sekitarnya telah mempengaruhi mental masyarakatnya. Perubahan-perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu menampakkan naik turunya mental dan pengamalan terhadap nilai-nilai luhur budaya kelihatannya pada akhir-akhir ini mulai luntur dan menipis. Hal ini dapat diamati melalui keseharian masyarakat Bungku yang tentunya dapat dijawab sendiri oleh peserta seminar hari ini. Nilai-nilai budaya yang kelihatanya menipis itu seperti Kerukunan, Sopan santun, Kemandirian, Keta’atan terhadap Agama, ketaatan pada orang tua, Disiplin dan cermat, Tanggungjawab, dan Rasa pengabdian. Kesemuanya itu terpulang kepada kita semua untuk menjawabnya
Demikian pula yang menyangku persoalan Sejarah Kerajaan Bungku; hingga kini masih terdapat pertentangan-pertentangan mengenai kebenaran sejarah tersebut. Semoga pertemuan hari ini dapat menjernihkan masalah tersebut. Penulis hawatir, jangan sampai seminar hari ini menjadi ajang untuk mengorek dan menfonis masa lampau. Harapan penulis kiranya kesempatan ini kita gunakan sebaik-baiknya untuk menggali sejarah masalampau Bungku dengan pikiran jernih dan kita berupaya untuk seobyektif mungkin sehingga pertentangan-pertentangan dapat kita eliminir.
Akhir tulisan ini Penulis titipkan sebuah pertanyaan akankah generasi muda Bungku dapat mengembalikan kebersamaan yang pernah dibangun oleh pemuda-pemuda Bungku yang tergabung di dalam gerakan Merah Putih saat melawan Kompeni Belanda dan pemberontakan Kahar Muzakar dahulu? Kritik saran, dan masukkan yang bersifat konstruktif penulis sangat harapkan untuk perbaikan kedepan. Semoga bermanfaat untuk semua pihak



















Daftar Pustaka
Alfian,
1979. Politik Kebudayaan dan Manusia Indonesia Jakarta: LP3ES.
Bachtiar, W. Harsya dkk,
1985, Budaya dan Manusia Indonesia, Malang: YP2LPM
Brown, Radcliffe R. A
1965, Structure and Function in Primitive Society, New York: The Free Press
Charlotte Seymour-Smith,
1986, Macmillan Dictionary of Anthropology, London: Macmillan Press.
Daeng, J. Hans
2000, Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Danandjaya, James
1991, Folkor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng dan lain–lain, Jakarta: Pustaka Utama.
Hasan Dkk,
2004, Sejarah Poso Yogyakarta: Tiara Wacana
Izarwisma (ed),
1989, Tata Kelakuan Keluarga di Lingkungan Pergaulan dan Masyarakat Setempat Daerah Sulawesi Tengah, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Koentjaraningrat,
1980, Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta: Dian Rakyat.
............................,
1974, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan
Siodjang, Baso dkk
1998, Wujud Arti dan Fungsi Puncak – Puncak Kebudayaan Lama dan Asli Bagi Masyarakat Pendukungnya: Sumbangan Kebudayan Daerah Sulawesi Tengah Terhadap Kebudayan Nasional, Palu: Departemen Pendidikan dan Kebudayan
SP, Santoso.
1980, Mewarisi dan Memperbaharui Warisan Budaya Nasional, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Muhammad, Syahril
2004, Kesultanan Ternate Sejarah Sosial Ekonomi & Politik, Yogyakarta: Ombak.

3 komentar:

  1. terima kasih atas tulisannya,mudah-mudahan tidak lelah dalam menulis sejarah bungku...

    untuk beberapa informasi dapat lihat di blog saya
    http://cerminpikiran.blogspot.com

    BalasHapus
  2. L.S.;

    Interesting to see something about the sejarah kerajaan Bungku.Difficult to get good info about it and also about the present situation of the dynasty.
    I have some info and old pictures of the raja2 Bungku.I can speak Indonesian.

    Salam hormat:
    D.P. Tick gRMK
    secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia "Pusaka"
    Vlaardingen/Belanda
    http://kerajaan-indonesia.blogspot.com
    pusaka.tick@tiscali.nl
    facebook:Donald Tick

    BalasHapus
  3. Terimakasih, tulisannya sangat membantu dalam pembuatan buku kami nanti :)

    BalasHapus